Di sebuah desa ada seorang petani yang sederhana, tekun dan saleh. Hasil pertaniannya selalu melimpah. Ia hidup bahagia dengan istri dan ketiga anaknya.
Setelah panen, anak pertama minta dibelikan sepeda motor. Ia kemudian pergi ke kota untuk membeli sepeda motor. Karena takut dirampok, ia membawa uang dalam gulungan tikar. Dengan penampilan seperti itu tak seorang pun mengira bahwa ia memiliki banyak uang.
Sesampainya di toko sepeda motor, seorang pelayan menghapirinya. Ia langsung menyodorkan uang receh dan menyuruhnya pergi. Dengan agak terkejut dan sopan si petani itu berkata, “Saya ke sini bukan untuk meminta-minta tetapi membeli sepeda motor.”
Dengan sinis, sang pelayan berkata, “Kalau kamu memang punya uang, 3 buah sepeda motor ini 5 juta kontan!” Kata si petani tua itu, “Benarkah demikian?” Si pelayan toko pun menaikkan nada suaranya, “Saya bukan anak kecil!” Mendengar kata-kata itu, ia keluar ke jalan dan menemui polisi. Ia menarik tangan polisi menuju toko tersebut. Sang polisi pun marah sekali. Segera ia menjelaskan apa yang dikatakan si pelayan toko, dan selanjutnya sang polisi diminta untuk menjadi saksi dalam transaksi.
Si petani tua segera membuka gulungan tikar yang dibawanya. Baik polisi maupun pelayan toko tak menyangka, bila gulungan tikar tersebut berisi uang sebanyak 100 juta. Pelayan toko dan polisi terbengong-bengong melihatnya. Dengan sangat malu pelayan toko itu memberikan 3 buah sepeda motor dengan harga 5 juta rupiah.
Pesan atas kisah tersebut ialah, jangan pernah meremehkan siapa pun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar