Pada suatu hari
seekor anak kerang di dasar laut
mengadu dan mengeluh
pada ibunya
sebab sebutir pasir tajam
memasuki tubuhnya
yang merah dan lembek.
“Anakku,”
kata sang ibu
sambil bercucuran air mata,
“Tuhan tidak memberikan pada kita,
bangsa kerang,
sebuah tangan pun,
sehingga Ibu tak bisa menolongmu.” 
Si ibu terdiam, sejenak,
“Sakit sekali, aku tahu anakku.
Tetapi terimalah itu
sebagai takdir alam.
Kuatkan hatimu.
Jangan terlalu lincah lagi.
Kerahkan semangatmu
melawan rasa ngilu
dan nyeri yang menggigit.
Balutlah pasir itu
dengan getah perutmu.
Hanya itu yang bisa kau perbuat”,
kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan
nasihat bundanya.
Ada hasilnya,
tetapi rasa sakit bukan alang kepalang.
Kadang di tengah kesakitannya,
ia meragukan nasihat ibunya.
Dengan air mata ia bertahan,
bertahun-tahun lamanya.
Tetapi tanpa disadarinya
sebutir mutiara mulai terbentuk
dalam dagingnya.
Makin lama makin halus.
Rasa sakit pun makin berkurang.
Dan semakin lama
mutiaranya semakin besar.
Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun,
sebutir mutiara besar,
utuh mengkilap,
dan berharga mahal pun terbentuk
dengan sempurna.
Penderitaannya berubah
menjadi mutiara,
air matanya berubah
menjadi sangat berharga.
Dirinya kini,
sebagai hasil derita bertahun-tahun,
lebih berharga daripada
sejuta kerang lain
yang cuma disantap orang
sebagai kerang rebus
di pinggir jalan.
...
...
...
..
..
dongeng.org/dongeng-motivasi/anak-kerang.html