Selasa, Desember 6

K 324 NG

Pada suatu hari 
seekor anak kerang di dasar laut 
mengadu dan mengeluh 
pada ibunya 
sebab sebutir pasir tajam 
memasuki tubuhnya 
yang merah dan lembek. 
“Anakku,” 
kata sang ibu 
sambil bercucuran air mata, 
“Tuhan tidak memberikan pada kita, 
bangsa kerang, 
sebuah tangan pun, 
sehingga Ibu tak bisa menolongmu.”
Si ibu terdiam, sejenak, 
“Sakit sekali, aku tahu anakku. 
Tetapi terimalah itu 
sebagai takdir alam. 
Kuatkan hatimu. 
Jangan terlalu lincah lagi. 
Kerahkan semangatmu 
melawan rasa ngilu 
dan nyeri yang menggigit. 
Balutlah pasir itu 
dengan getah perutmu. 
Hanya itu yang bisa kau perbuat”,
kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan 
nasihat bundanya. 
Ada hasilnya, 
tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. 
Kadang di tengah kesakitannya, 
ia meragukan nasihat ibunya. 
Dengan air mata ia bertahan, 
bertahun-tahun lamanya. 
Tetapi tanpa disadarinya 
sebutir mutiara mulai terbentuk 
dalam dagingnya. 
Makin lama makin halus. 
Rasa sakit pun makin berkurang. 
Dan semakin lama 
mutiaranya semakin besar. 
Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar. 
Akhirnya sesudah sekian tahun, 
sebutir mutiara besar, 
utuh mengkilap, 
dan berharga mahal pun terbentuk 
dengan sempurna. 

Penderitaannya berubah 
menjadi mutiara, 
air matanya berubah 
menjadi sangat berharga. 
Dirinya kini, 
sebagai hasil derita bertahun-tahun,
lebih berharga daripada 
sejuta kerang lain 
yang cuma disantap orang 
sebagai kerang rebus 
di pinggir jalan.


...
...
...
..
..
dongeng.org/dongeng-motivasi/anak-kerang.html

Tidak ada komentar: