Kamis, Mei 19

akU_tAK_maMPu

Sering kali dengan dalih ingin membantu 
gemas karena tidak dikerjakan 
atau 
justru memang dari diri kita sendiri,
yang tidak pernah puas
ternyata kita menghambat orang lain
untuk maju dengan apa yang dia punya dan bisa.
Padahal dari kecil pun; 
bahwa manusia diciptakan dengan 
segala kekurangan dan kelebihannya. 
Tinggal bagimana kita mengolahnya 
pada proses selanjutnya, 
sehingga kita dapat menjadikan hal itu 
menjadi sebuah pegangan berarti dalam hidup.

Gengsi 
kadang menguasai untuk mengakui 
bahwa aku punya kekurangan 
dan ia dapat menutupinya 
sehingga 
biarlah ia saja yang mengerjakannya 
dan dengan caranya sendiri.

Andaikata ibu jari ingin setinggi jari tengah, 
lalu bagaimana kita bisa lancar ber-SMS? 
Misalnya jari telunjuk tidak mau 
menjalankan tugasnya sebagai jari penunjuk, 
apakah dengan jari kelingking akan terlihat 
jika kita bertanya sesuatu?

“Nah, jadi kalian sebenarnya sudah mendapat 
porsi masing-masing, berbahagialah untuk itu. 
Kalian tidak perlu capai mengerjakan 
yang harusnya dikerjakan 
orang lain.”

Memang ini masalah sulit, 
apalagi jika ternyata kita pun 
sebenarnya merasa mampu dan ingin pula 
memberikan yang terbaik. 
Ada perang batin yang mungkin terjadi 
sebelum kita memutuskan apa.

Tetapi, 
jika kita kembali pada kepercayaan 
bahwa manusia punya 
kelemahan dan kelebihan masing-masing, 
mestinnya bisa saling menghargai.

Sebab di mata Tuhan, 
tidak ada manusia yang tidak sempurna. 
Ia telah melengkapi ciptaan satu itu 
dengan segala yang dibutuhkan 
bahkan dengan kondisi 
paling buruk sekali pun.
....
....
..
.
anonim

Rabu, Mei 18

dApUR_kEhiDupAN


Seorang wanita muda mengeluh kepada ayahnya, mengapa belakangan ini hidupnya sengsara dan semakin sulit. 

Mendengar hal itu Sang Ayah tidak banyak berkomentar, ia malah membimbing putrinya itu masuk ke dapur.


Setelah menyalakan kompor, ia menaruh tiga panci berisi air. Tidak beberapa lama, ia cemplungkan wortel ke dalam panci pertama, sebutir telur ke dalam panci kedua, dan dua sendok bubuk kopi ke dalam panci ketiga. Setelah air di ketiga panci itu mendidih, Sang Ayah menuang isinya ke dalam tiga mangkuk yang berbeda. Sang Putri diminta memotong telur, wortel, serta mengirup aroma wangi kopi.
Tanpa bisa menyembunyikan rasa heran dan penasaran Sang Putri segera bertanya, 
“Apa maksud semua ini, Pak?”


“Setiap makanan,” ujar Sang Ayah, “mengajarkan kepada kita tentang bagaimana harus bersikap menghadapi keanekaragaman, seperti yang dicontohkan oleh air mendidih itu.”


Ketika dimasukkan ke dalam air mendidih, wortel itu masih keras tapi ketika dikeluarkan, wortel sudah lunak dan empuk. 
Sebaliknya telur itu dimasukkan dalam keadaan masih mentah dan mudah pecah, tapi setelah matang justru menjadi padat. 
Sementara bubuk kopi itu mengubah air menjadi minuman yang wangi.

“Nah, dalam menghadapi kehidupan ini, kamu memilih yang mana?” tanya Sang Ayah.

“Apakah kamu akan menyerah, menjadi keras, atau akan mengubah dan ‘memasak’ keanekaragaman itu menjadi sebuah kemenangan? 
Sebagai ‘koki’ atas kehidupanmu, apa yang akan kamu sajikan di meja makan?"
...
...
anonim

Kamis, Mei 5

dARi_eDDy_sRiyaNto

Confucius berkata :
"Orang bijak tidak bimbang, 
orang bercinta-kasih tidak cemas 
dan seorang pemberani tidaklah merasa takut".
 
Orang bijak cenderung tidak bimbang, 
karena tahu menilai suatu hal dengan melakukan analisa dan perenungan.
Kegunaan dari menilai adalah untuk membedakan betul-salah, 
asli-palsu, baik-buruk. 
Hasil penilaian membimbing kita pada satu tindakan: 
mengembangkan yang baik, 
menghancurkan yang tidak baik.
 
Orang baik-hati tidak cemas, 
karena ia memiliki cinta dalam hatinya, 
sehingga tidak perlu takut melukai hati orang lain. 
Ia cenderung disukai orang karena kebaikan hatinya.
 
Seorang pemberani cenderung tidak takut, 
karena ia memiliki prinsip dalam melaksankan tindakan. 
Prinsip inilah yang memotori mereka 
untuk melakukan sesuatu yang menurutnya betul.

Bijak, cinta-kasih dan berani 
adalah "nilai" yang ada di dalam diri seorang manusia. 
Jika kita merasa kita kurang bijak, 
kurang cinta-kasih dan kurang berani mengambil satu tindakan, 
maka sudah seharusnya kita belajar lebih giat untuk 
mengembangkannya.

Rabu, Mei 4

pEdiH

...kucoba untuk menulis,
rangkaian kata hati
yang selalu membawa dalam suasana pedih

kutarik, kuurai ....
dan kurangkai tuk jadikan pelangi hati
namun tak kujumpai
satu warna pun dalam hati

semangat yang mati
naluri yang tak bersih lagi
ingin berteriak tiada henti
walau tak ada yang peduli
perih
...
sedih
...