Sering kali dengan dalih ingin membantu
gemas karena tidak dikerjakan
atau
justru memang dari diri kita sendiri,
yang tidak pernah puas
ternyata kita menghambat orang lain
untuk maju dengan apa yang dia punya dan bisa.
Padahal dari kecil pun;
bahwa manusia diciptakan dengan
segala kekurangan dan kelebihannya.
Tinggal bagimana kita mengolahnya
pada proses selanjutnya,
sehingga kita dapat menjadikan hal itu
menjadi sebuah pegangan berarti dalam hidup.
Gengsi
kadang menguasai untuk mengakui
bahwa aku punya kekurangan
dan ia dapat menutupinya
sehingga
biarlah ia saja yang mengerjakannya
dan dengan caranya sendiri.
Andaikata ibu jari ingin setinggi jari tengah,
lalu bagaimana kita bisa lancar ber-SMS?
Misalnya jari telunjuk tidak mau
menjalankan tugasnya sebagai jari penunjuk,
apakah dengan jari kelingking akan terlihat
jika kita bertanya sesuatu?
“Nah, jadi kalian sebenarnya sudah mendapat
porsi masing-masing, berbahagialah untuk itu.
Kalian tidak perlu capai mengerjakan
yang harusnya dikerjakan
orang lain.”
Memang ini masalah sulit,
apalagi jika ternyata kita pun
sebenarnya merasa mampu dan ingin pula
memberikan yang terbaik.
Ada perang batin yang mungkin terjadi
sebelum kita memutuskan apa.
Tetapi,
jika kita kembali pada kepercayaan
bahwa manusia punya
kelemahan dan kelebihan masing-masing,
mestinnya bisa saling menghargai.
Sebab di mata Tuhan,
tidak ada manusia yang tidak sempurna.
Ia telah melengkapi ciptaan satu itu
dengan segala yang dibutuhkan
bahkan dengan kondisi
paling buruk sekali pun.
....
....
..
.
anonim

Tidak ada komentar:
Posting Komentar