Kamis, Mei 19

akU_tAK_maMPu

Sering kali dengan dalih ingin membantu 
gemas karena tidak dikerjakan 
atau 
justru memang dari diri kita sendiri,
yang tidak pernah puas
ternyata kita menghambat orang lain
untuk maju dengan apa yang dia punya dan bisa.
Padahal dari kecil pun; 
bahwa manusia diciptakan dengan 
segala kekurangan dan kelebihannya. 
Tinggal bagimana kita mengolahnya 
pada proses selanjutnya, 
sehingga kita dapat menjadikan hal itu 
menjadi sebuah pegangan berarti dalam hidup.

Gengsi 
kadang menguasai untuk mengakui 
bahwa aku punya kekurangan 
dan ia dapat menutupinya 
sehingga 
biarlah ia saja yang mengerjakannya 
dan dengan caranya sendiri.

Andaikata ibu jari ingin setinggi jari tengah, 
lalu bagaimana kita bisa lancar ber-SMS? 
Misalnya jari telunjuk tidak mau 
menjalankan tugasnya sebagai jari penunjuk, 
apakah dengan jari kelingking akan terlihat 
jika kita bertanya sesuatu?

“Nah, jadi kalian sebenarnya sudah mendapat 
porsi masing-masing, berbahagialah untuk itu. 
Kalian tidak perlu capai mengerjakan 
yang harusnya dikerjakan 
orang lain.”

Memang ini masalah sulit, 
apalagi jika ternyata kita pun 
sebenarnya merasa mampu dan ingin pula 
memberikan yang terbaik. 
Ada perang batin yang mungkin terjadi 
sebelum kita memutuskan apa.

Tetapi, 
jika kita kembali pada kepercayaan 
bahwa manusia punya 
kelemahan dan kelebihan masing-masing, 
mestinnya bisa saling menghargai.

Sebab di mata Tuhan, 
tidak ada manusia yang tidak sempurna. 
Ia telah melengkapi ciptaan satu itu 
dengan segala yang dibutuhkan 
bahkan dengan kondisi 
paling buruk sekali pun.
....
....
..
.
anonim

Tidak ada komentar: