Tidak ada sedih dan kemurungan yang lahir begitu saja. Hanya karena bentuknya yang beragam, kadarnya yang berbeda-beda, ada yang kecil ada yang besar, kita sering dikacaukan oleh anggapan bahwa kesedihan itu, seolah-olah harus disebabkan oleh sebab-sebab yang besar saja. Kepada sebab-sebab yang kecil dan sederhana, kita jarang mau mengakui, atau malu mengakui. Karena betapa tidak gagah untuk mengakui ketersinggungan hanya karena seseorang kedapatan main klakson sembarangan di belakang motor atau mobil kita.
Klakson itu begitu kasarnya sehingga urusannya bukan lagi pekak di telinga melainkan pekak di hati. Tafsirnya bisa membesar dan makin membesar tergantung siapa kita ini dan dengan cara apa kita melabeli diri sendiri. Makin besar dan makin mahal label yang kita pajang, makin besarlah ketersinggungan ini. Tapi ini jalan raya, semua orang boleh menglakson dan diklakson, tanpa harus melihat dulu apakah kita ini seorang menteri atau walikota.
Cukup hanya dengan rasa direndahkan tanpa sengaja ini, di kantor kita bisa uring-uringan, dan di rumah masih disambung dengan membanting gelas. Jika ini belum meredakan kemarahan, singkirkan segera kucing piaraan karena ia bisa menjadi korban tendangan. Itulah yang sering disebut sebagai sedih tanpa alasan. Sebetulnya alasan itu jelas, tetapi terlalu kecil untuk diakui, terlalu mengada-ada untuk didiskusiksan. Sebab kecil inilah yang kemudian menjadi kerikil dalam sepatu dan menjadi kelilip di pelupuk mata. Ia kecil tetapi mengganggu karena berada di tempat yang peka. Tidak ada jalan lain untuk mengatasi persoalan ini kecuali dengan cara mengoperasinya.
kurangi rasa penting bagi diri sendiri dan tambahkan rasa penting bagi pihak lain.
Selalu temukan keriklil dalam sepatu dan singkirkan.
Selalu temukan keriklil dalam sepatu dan singkirkan.
…
…
…
"Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia". by_Prie GS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar